Kisah seorang cyber crime

Aku adalah seorang anak SMA berusia 16 tahun. Ayahku adalah seorang konsultan teknologi dari sebuah bank ternama. Ibuku adalah seorang System Analyst dari sebuah perusahaan sistem operasi ternama di dunia. Aku adalah anak yang sangat dimanja oleh kedua orang tuaku. Di samping itu, aku memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Dari hal-hal kecil sampai hal-hal yang imajinier aku tanya langsung kepada kedua orang tuaku. Kadang pertanyaanku sering kali membuat mereka terdiam (sambil berkenyit) berpikir, sebelum memberikan jawaban kepadaku.

Pada saat aku menginjak usia 7 tahun, oleh ayahku aku dibelikan sebuah alat permainan yang terkenal dengan sebutan PlayStation. Hanya dalam waktu singkat aku dapat memainkannya, bahkan untuk game-game yang tingkat kesulitannya cukup tinggi dapat aku selesaikan. Game yang paling aku sukai adalah “Thomb Raider” & “Max Paine”, karena membutuhkan olah pikiran untuk memecahkan misteri & kehati-hatian dalam menjalankan misi.

Jika dibandingkan dengan teman-teman kelasku sewaktu aku berumur 7 tahun, aku tergolong anak yang pendiam. Tapi pada waktu belajar di kelas aku paling menyukai mata pelajaran Matematika dan Komputer. sering kali, pada saat test atau ulangan aku mendapat nilai tertinggi untuk kedua mata pelajaran tersebut.

Walaupun pendiam, aku dikenal oleh teman-temanku sebagai “pendebat ulung”, seringkali terjadi tanya jawab yang sengit antara aku dengan guru dikelasku. Segala pertanyaan, argumentasi maupun jawaban yang aku utarakan sering kali membuat susah guruku untuk menjawab maupun menanggapinya. Pernah wali kelasku memanggil kedua orang tuaku untuk melakukan konsultasi. Beliau menyarankan agar aku diberikan kesempatan mengikuti pelajaran yang lebih tinggi lagi (waktu itu dikenal dengan istilah “Loncat Kelas”). Tetapi ibuku bersikeras agar aku tetap mengikuti kelas yang normal karena sangat mengkhawatirkan perkembangan mentalku yang beliau rasa belum siap untuk bergaul dengan anak yang usianya lebih tua dari aku (kakak kelas). Akhirnya aku tetap mengikuti kelas yang normal mengikuti keinginan ibuku.

Walhasil, karena kelebihan yang aku miliki, aku menjadi anak yang kurang bergaul dengan anak seusiaku. Pada saat anak-anak yang lain sedang asyik bermain dan bercanda di halaman sekolah, aku memilih diam di kelas atau pojokan kantin sambil membaca majalah teknologi & lebih sering mencoba mengutak-atik soal-soal matematika.

Pada usia 9 tahun, aku mulai berkenalan dengan yang namanya “Internet”. Kebetulan ayahku membawa pulang komputer notebook-nya dan pada waktu itu beliau sedang mengecek email. Aku langsung tertarik dan bertanya ke ayahku apa yang sedang beliau kerjakan. Mulai saat itu aku seperti kecanduan ngutak-atik notebook ayahku hanya sekedar bisa jalan-jalan alias “Surfing” ke Internet. Oleh ayahku bahkan aku diajarkan bagaimana mencari informasi lewat website “Google.com”,”Wikipedia.com”, “Metacrawler.com”. Oleh ayahku kemudian aku dibelikan sebuah komputer desktop supaya aku bisa lebih leluasa belajar tanpa mengganggu notebook ayahku yang lebih banyak berisi pekerjaan kantornya.

Suatu hari pada saat aku berusia 11 tahun, aku melihat ayahku sedang membuka sebuah website. Aku menghampirinya dan melihat bahwa website tersebut berisi informasi nilai tukar mata uang, bunga bank, dan informasi ekonomi. Kemudian ayahku mengklik sebuah link yang bertuliskan “Member”. Pada saat berikutnya aku melihat halaman tampilan berubah, ada kolom isian yang bertuliskan “Username” dan “Password”. Ayahku lalu mengetikkan sesuatu ke isian tersebut lalu mengklik sebuah tombol yang bertuliskan “Logon”. Halaman berikut yang muncul berisikan informasi nama lengkap ayah, jumlah rekening ayah. Kemudian ayahku melakukan sesuatu, yang aku lihat selanjutnya adalah angka pada kolom rekening ayah berkurang.

Menyadari ada aku di sampingnya ayah hanya menjelaskan bahwa ia sedang membayar rekening tagihan listrik, telepon dan koran. Aku bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi, kelihatannya dengan gampang ayah melakukan hal itu cukup dari rumah saja, soalnya aku pernah melihat orang tua salah seorang temanku sedang antri di loket pembayaran listrik untuk membayar listrik. Dengan gamblang ayahku menjelaskan semuanya kepadaku, mulai dari tahap registrasi (pendaftaran) sampai punya Account (ID) khusus untuk bisa mengakses rekening bank dari Internet.

Sejak saat itu aku mulai tertarik mempelajarinya, bahkan oleh ayahku aku mulai mengenal yang namanya bahasa pemrograman seperti ASP, Javascript, PHP. Tidak sampai 2 bulan aku sudah bisa membuat website pribadiku. Suatu hari pada saat aku sedang mengutak-atik bahasa pemrograman, tiba-tiba di layar monitorku muncul kotak dialog peringatan dengan pesan dalam kata-kata aneh. Aku lalu memanggil ayahku untuk bertanya. Beliau lalu menjelaskan bahwa itu ulah virus komputer. Lalu beliau mengambil alih komputerku untuk diutak-atik. Tak lama kemudian pesan di layar monitor tersebut telah hilang. Lalu ayah berkata bahwa virusnya telah hilang. Aku menjadi penasaran, aku lalu bertanya kepada ayahku siapa pembuat virus itu dan bagaimana caranya virus bisa masuk ke komputer aku.

Ayahku lalu menjelaskan secara detail bagaimana virus itu dibuat dan bagaimana cara penularannya sehingga masuk ke komputerku. Demikian terkesannya aku akan proses virus komputer ini, membuat aku mulai mencari informasi bagaimana cara membuatnya melalui internet.

Hampir seharian aku menggunakan fasilitas pencarian dari “Google.com” dan “Metacrawler.com” sampai akhirnya aku menemukan sebuah website yang kebetulan menyediakan informasi yang aku cari. Tidak hanya itu, aku juga bisa mendapatkan sebuah program kecil (tool) yang bisa membuat virus secara cepat, program ini dikenal dengan nama “Virus Generator …. “, dengan cepat aku mempelajarinya.

Fasilitas yang disediakan oleh Virus Generator ini cukup lengkap, mulai dari pilihan cara penularan, teknik menyembunyikan diri dari program antivirus, sampai informasi apa saja yang ingin virus tersebut kumpulkan. Sebagai percobaan, aku memodifikasi virus dari Virus Generator dan aku cobakan ke komputer notebook ayahku. Aku penasaran dengan sebuah aplikasi yang ada di notebook ayah yang selalu meminta password setiap kali aku membukanya. Lalu aku copy-kan virus ini ke notebook ayah. Prinsip kerja virus ini aku buat untuk merekam seluruh aktifitas terutama setiap kali ayah memasukkan kata kunci (password) ke notebooknya. Setiap hasil rekaman aktifitas ini akan terkirim secara otomatis lewat email ke komputerku.

Hasilnya dalam waktu 2 hari aku sudah memperoleh password dari aplikasi pada notebook. Lantas aku coba membuka aplikasi pada notebook ayah dengan password yang aku peroleh dari virus tersebut. Ternyata aku bisa masuk ke dalam aplikasi tersebut tanpa masalah. Informasi yang muncul selanjutnya adalah jadwal kerja ayah selama di kantor, informasi rekan kerja maupun rekan bisnis ayah. Di dalamnya ada informasi alamat email, telepon dan alamat rumah.

Wow, demikian senangnya aku dengan hasil kerja virus yang aku mdifikasi. Pada saat aku menginjak usia 15 tahun (usia pelajar SMA) aku mulai mencoba menggunakanan virus yang aku buat ini untuk mendapatkan jawaban ulangan yang akan diberikan oleh guruku nanti. Waktu itu dengan sembunyi-sembunyi aku masuk ke dalam lab komputer, kemudian aku menuju ke komputer yang biasanya digunakan oleh guruku. Aku copy-kan virus yang telah aku modifikasi untuk merekam seluruh aktifitas pada komputer tersebut, menyimpannya dalam bentuk file lalu secara otomatis mengirimkannya ke alamat email aku. 3 hari kemudian aku telah memperoleh seluruh soal maupun jawaban yang dibuat oleh guruku yang aku download dari email aku di rumah.

Pada saat ujian berlangsung, ternyata soal yang keluar sama persis dengan yang aku dapatkan. Dengan tenangnya aku menuliskan jawabannya sesuai dengan yang telah aku peroleh sebelumnya. Seminggu kemudian hasil ujian keluar, tenyata di kelasku hanya aku yang mendapat nilai tertinggi dan nilai sempurna (A). Demikian senangnya aku dengan hasil yang aku peroleh tanpa perlu susah payah belajar mata pelajaran tersebut. Bahkan oleh guru pada bidang pelajaran tersebut aku dianggap sebagai murid “terpandai”.

Aku lalu menyadari keampuhan Virus Generator yang aku gunakan ini. Suatu hari aku membaca sebuah berita di Internet. Berita tersebut berisi bobolnya informasi para nasabah dari sebuah bank ternama. Informasi seperti nama lengkap, nomor rekening, nomor kartu kredit, alamat, bahkan userID dan password telah bocor hanya melalui sebuah website palsu yang meniru tampilan website dari bank tersebut. Pelakunya kemudian tertangkap dan mengakui perbuatannya. Aku bahkan sempat berdiskusi dengan ayahku tentang keamanan data nasabah dari sebuah bank. Ayahku menjelaskan apa saja yang kira-kira bisa membuka celah akses ke data nasabah. Mulai dari sistem pengaman sampai kepada sistem operasi yan digunakan bank. Bahkan ibuku juga ikut nimbrung, membicarakan tetang celah kelemahan sistem operasi tempat dia bekerja.

Hampir semalaman, aku tidak bisa tidur memikirkan berita di Internet tersebut, campur-aduk dengan informasi yang aku dapat dari ayah dan ibu. Siang harinya di sekolah, aku sengaja tinggal lebih lama di ruang lab komputer pada jam istirahat. Aku lalu menggunakan Virus Generator yang aku miliki untuk membuat virus baru. Dengan melakukan modifikasi yang cukup rumit akhirnya aku bisa menyelesaikannya.

Cara kerja virus ini adalah :
1. Mengecek file-file dokumen yang ada dalam komputer tersebut apakah ada kata yang berhubungan dengan “Account”, “Rekening”, maupun nama-nama Bank ternama kemudian merekamnya dalam satu file lalu mengirimkannya lewat email ke alamat email yang aku buat pada beberapa penyedia email gratisan.

2. Mengecek aplikasi yang sedang dijalankan apakah pada tampilannya ada kata yang berhubungan dengan “Account”, “Rekening”, “Credit Card”, “UserID” & “Password”, lalu merekamnya kemudian mengirimkan hasilnya ke alamat email aku .

3. Mengecek apakah komputer tersebut terhubung dengan komputer lainnya melalu jaringan komputer, lalu mencari direktori yang disharing pada komputer yang lain untuk kemudian menularinya dengan virus yang sama.

4. Mengecek addres book (buku alamat) yanga ada pada komputer tersebut, lalu secara otomatis mengirim email yang mengandung virus yang aku buat ke alamat-alamat email yang tercantum dalam buku alamat pada kompute tersebut.

Setelah selesai aku buat virus ini, lalu dari rumah dengan menggunakan komputer notebook ayah aku mengirim email yang telah aku masukkin virus yang aku buat ke rekan kerja ayah dan rekan bisnis melalui data aplikasi yang aku “curi” dari ayah dulu.

Untuk mencegah pelacakkan virus yang aku buat itu, sengaja aku menggunakan alamat email gratisan yang banyak tersedia di internet. Dalam waktu dua minggu, aku banyak sekali mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan data-data nasabah bank. Bahkan pada bank tempat ayah bekerja aku berhasil mengumpulkan informasi data nasabah sebanyak 200 orang.

Iseng-iseng, aku menggunakan data nasabah tersebut untuk melakukan transfer ke tabungan atau rekening yang aku miliki. Untuk mencegah ketahuan oleh nasabah tersebut transfer yang aku lakukan cukup $100 (seratus dolar) per nasabah. Dengan demikian jika si nasabah mengecek saldo rekeningnya akan tidak begitu kelihatan berkurangnya. Dengan cepat rekeningku bertambah sebanyak $20.000 ($100 x 200 orang).

3 minggu kemudian sebuah perusahaan antivirus ternama, mengumumkan penemuan virus baru (virus yang aku buat), yang digolongkan sebagai virus “berbahaya” karena mencuri data-data pribadi nasabah dari beberapa Bank ternama. Dengan cepat aku beraksi, mendownload seluruh data yang berhasil aku curi lewat email. Kemudian selama satu malam aku membuat virus baru, yang memiliki sifat menghapus virus yang sebelumnya kubuat guna “menghilangkan jejak”.Lalu melalui sebuah warnet aku lalu mengirimkan email yang mengandung virus yang aku buat ke alamat-alamat email nasabah yang telah aku miliki datanya.

Pada suatu sore, ayahku pulang dari kantor dengan wajah murung dan sedih.Pada saat makan malam aku mendengar beliau bercerita pada ibuku bahwa karir beliau tengah terancam, karena pada siang harinya kantor ayah di datangi polisi dan penyidik kejahatan internasional yang memeriksa seluruh aktifitas transaksi dan seluruh akses internet dari kantor ayah. Bahkan komputer notebook ayah ditahan untuk diperiksa. Ayah berkata bahwa nilai saham bank tempat dia bekerja anjlok karena polisi menduga asal muasal kebocoran dan penyebaran virus berasal dari kantor tempat ayah bekerja. Oleh pimpinan tempat ayah bekerja seluruh staff diberikan pengarahan serta teguran keras barang siapa yang membocorkan informasi akan dipecat.

Kebetulan divisi ayah yang bertanggung jawab terhadap koneksi internet dan sistem pengamanan bank. Sebagai konsultan tentunya ayah yang merasa paling bertanggung jawab terhadap hal ini.

Setelah mendengarkan penuturan ayah yang demikian tertekan dan seperti kehilangan semangat, aku menjadi shock dan terdiam. Ternyata pengetahuan yang aku miliki menghancurkan kerja bahkan karir orang yang paling aku sayangi. Semalaman aku mengurung diri di kamar, bahkan saat ibuku memanggil aku untuk makan malam aku menjawab kalau aku masih kenyang. Aku cuma duduk diam dan menangis di tempat tidur.

Pagi harinya, bel pintu rumah kami berbunyi. Dari jendela kamar aku melihat 2 buah mobil polisi parkir di depan rumahku. Aku melihat 4 orang polisi turun dari mobil, sedangkan yang berdiri depan pintu rumah kami adalah seorang inspektur polisi berpakaian sipil biasa tapi lengkap dengan tanda pengenal serta pistol di pinggang kirinya. Ibuku yang membuka pintu mempersilahkan polisi itu masuk, ayahku sedang berada di ruang makan dan sedang sarapan. Tak lama berselang aku mendengar teriakan dan tangisan ibu. Aku lalu berlari k ruang tamu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Aku kaget dan gemetar melihat ayahku sedang diborgol oleh polisi dan selanjutnya digiring ke arah pintu depan rumah kami.

Dengan perasaan campur aduk dan sedih aku lalu berteriak :
“Berhenti… !!! Bebaskan ayahku !! ayahku tidak bersalah, akulah yang bersalah !! Aku yang melakukan semua kejahatan itu, silahkan anda periksa komputerku, disitu ada data-data dan aplikasi yang aku gunakan untuk melakukan kejahatan. Mohon lepaskan ayahku… dia tidak bersalah.. !!!”

Ibuku memandang dengan mulut ternganga, mata melotot ke arahku, beliau tidak berkata apa-apa, dari matanya keluar air mata yang segera membasahi kedua pipinya yang bersih. Saking shock-nya ibuku lalu jatuh pingsan depan pintu rumah kami. Aku cuma bisa menangis.. melihat semuanya.

Demikianlah kisah karirku dalam bidang “Cyber Crime”, hasilnya dalam sia yang masih sangat muda (anak SMA) aku dijebloskan ke penjara anak dengan hukuman 1 tahun penjara dan hukuman untuk tidak boleh berada dekat dengan komputer minimal 10 meter selama 5 tahun.

Ayahku sekarang telah membuka usaha sendiri, sebagai konsultan pendidikan setelah beliau dipecat dari perusahaan tempat dia bekerja. Ibuku… hmm.. yang aku sayangi sekarang berbisnis pakaian dengan membuka toko di samping rumah kami. Beliau memutuskan untuk berhenti bekerja dari tempat kerjanya yang dulu dan ingin lebih dekat dan mengawasi aku sekeluar aku dari penjara.

NB: Dikutip dari kisah seorang anak muda asal Kanada yang terinspirasi dari kisah hidup Kevin D. Mitnick yang menulis uku yang berjudul “The Art of Deception” (Sekarang menjadi konsultan Cyber Crime di FBI & CIA)

Catatan :
Kisah atau ilustrasi ini hanyalah merupakan kisah hidup seorang pelaku “Cyber Crime” yang bisa dijadikan pelajaran antara lain : Semaju atau secanggih apapun Teknologi semuanya kembali tergantung kepada manusia yang menggunakannya, sifat-sifat manusia seperti percaya diri yang terlalu tinggi, tidak hati-hati dalam memberikan dan menyimpan informasi,semuanya dapat menjadi senjata makan tuan hanya karena perbuatan seorang anak SMA yang memiliki sifat”Rasa Ingin Tahu” dan “Kreatifitas Imajinasi”.

*Sumber: milist

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: