Baytdinar Hadir di Bekasi

JAKARTA — Sebuah wakala baru hadir di Bekasi. Baytdinar, tempat
penukaran  dinar dan dirham ini dioperasikan untuk memperkenalkan dan mendekatkan  masyarakat pada mata uang bebas riba. Wakala ini juga dilengkapi dengan  dinarmart, sebuah toko yang menyediakan beragam produk yang dinilai dengan  mata uang dinar dan dirham.

”Dengan menyediakan wakala serta toko sekaligus, kami ingin masyarakat
mengenal transaksi dengan mata uang yang lebih stabil,” kata Muhammad
Hatta, pengelola Baytdinar tersebut, dalam siaran persnya kepada
Republika. Karena terbuat dari emas dan perak murni, mata uang dinar
dan dirham tak pernah mengalami inflasi atau depresiasi selama 1.500 tahun.

Hatta mengatakan, pendirian wakala itu bekerja sama dengan Wakala Adina
yang lebih dulu hadir di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Dengan
kehadiran Dinarmart, wakala yang baru dibentuk ini tak hanya melayani
masyarakat yang ingin menukarkan dinar dan dirham untuk keperluan
investasi dan mas kawin, tapi juga langsung untuk transaksi. Konsumen
juga  dapat berbelanja dengan mendebet tabungan dinar dan dirham yang
dimiliki.

Dinar dan dirham, menurut Hatta, dapat juga untuk membayar zakat mal
(harta) dan tabungan mempersiapkan ongkos naik haji. Dengan transaksi
tersebut, konsumen maupun penjual sama-sama untung karena bebas dari
pengaruh inflasi.
Inflasi mata uang kertas makin menjadi setelah Presiden Richard Nixon
menghentikan kurs tetap dan melepaskan dukungan emas terhadap mata uang
kertas pada 1971. Sejak itu sistem keuangan dunia sepenuhnya berbasis
bunga atau riba.
Gerakan kembali menggunakan dinar dan dirham hadir kembali pada 1991
setelah Murabitun Internasional menerbitkan fatwa tentang larangan
pemakaian uang kertas sebagai alat tukar. Semenjak itu dinar dan dirham
mulai diterbitkan dan digunakan di berbagai negara di dunia, antara
lain
di Dubai, Inggris, Afrika Selatan, Malaysia, dan Indonesia. Ukuran
pencetakan koin dinar dan dirham ini distandardisasi oleh World Islamic
Trading Organization (WITO) yang berpusat di London.

Penggunaan dinar emas dan dirham perak sebagai alat tukar, kata Hatta,
menempatkan setiap negara memiliki kedudukan sederajat. Ini akan
berbeda dengan penerapan mata uang kertas di mana ada satu negara yang kuat dan  negara yang lemah. ”Sebagai bangsa yang memiliki mata uang rupiah,  kita selalu kalah karena nilainya selalu terdepresiasi,” ujarnya.

Misalnya, kata dia, negara melakukan pinjaman luar negeri dalam nilai
dolar. Pinjaman tersebut dikembalikan dengan menggunakan barang riil,
seperti minyak bumi, batu bara, biji timah, dan emas.

sumber : http://www.mail-archive.com/filsafat@yahoogroups.com/msg01396.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: